Anak sunat sedang diarak Kuda Renggong, di Jalan Kopo Bandung, Rabu siang, 5 September 2018. | A child circumcision is being paraded by a Renggong Horse, on Jalan Kopo Bandung, Wednesday afternoon, September 5, 2018.

 

Rabu siang, 5 September 2018, di Jalan Kopo Bandung, saya melihat atraksi Kuda Renggong sedang mengarak anak sunat. Meski demikian, kehadirannya tidak membuat jalan raya itu macet. Atraksinya berlangsung secara tertib. Atraksi seni ini mengingatkan saya pada Pak Amin, Lurah Kuda Renggong yang terkenal pada tahun 1990-an di Cileunyi, Kabupaten Bandung. Saat itu, dalam perbincangan dengan saya di rumahnya, Pak Amin menjelaskan asal-usul kesenian Kuda Renggong.

Wednesday afternoon, September 5, 2018, at Jalan Kopo Bandung, I saw the attraction of Kuda Renggong being parading circumcision children. However, its presence does not make the highway jammed. The attraction takes place in an orderly manner. This art attraction reminds me of Mr. Amin, the famous Kuda Renggong Head in the 1990s in Cileunyi, Bandung Regency. At that time, in a conversation with me at his house, Mr. Amin explained the origins of Kuda Renggong art.

Kuda Renggong merupakan atraksi khas Jawa Barat. Kesenian ini melibatkan 25 hingga 30 orang untuk nayaga, sais kuda serta pendukung lainnya setiap pergelaran. Biasanya setiap pergelaran dipadu dengan Kuda Lumping, makan padi, debus, atau atraksi digilas sepeda motor. Pemimpinan rombongan Kuda Renggong disebut Lurah.

Kesenian Kuda Renggong berasal dari Kampung Renggong dan Cipari, Kabupaten Sumedang, secara turun-temurun, sejak Pangeran Sumedang bertahta. Menurut cerita, kesenian ini bermula ketika Pangeran Cirebon adu tanding menunggang kuda dengan Pangeran Sumedang. Anehnya, ketika adu tanding itu, kuda dari Sumedang tidak berlari kencang malahan menari berirama. Tentu saja Pangeran Sumedang kecewa. Timbullah ide agar kuda tersebut diibingkan saja. Karena kuda tersebut dari Kampung Renggong maka disebutlah kesenian Kuda Renggong.

Renggong Horse is a typical attraction of West Java. This art involves 25 to 30 people for nayaga, sais kuda and other supporters for each performance. Usually every performance combined with Kuda Lumping, eating rice, debus, or motorbike crushed attractions. The leadership of the group of Renggong Horses is called Lurah.

The Kuda Renggong art comes from Kampung Renggong and Cipari, Sumedang Regency, for generations, since Pangeran Sumedang reigned. According to the story, this art began when the Pangeran Cirebon competed to ride a horse with Pangeran Sumedang. Strangely, when the match was over, the horse from Sumedang did not run fast and instead danced rhythmically. Of course Pangeran Sumedang was disappointed. The idea arose that the horse should be ignored. Because the horse is from Renggong Village, it is called Kuda Renggong art.

Kini Kuda Renggong digunakan dalam upacara khitanan, menyambut tamu, atraksi wisata. Bahkan di daerah Subang, Cilamaya, Ciasem dan Karawang, Kuda Renggong digunakan untuk mengarak pengantin. Lama setiap pergelaran tergantung pada si empunya hajat. Biasanya diarak kampung. Kita bisa membayangkan berapa jauh jarak yang harus ditempuh selama pergelaran. Kini, Kuda Renggong tetap eksis di Jawa Barat. Bahkan namanya pun berkembang. Ada Renggong Cileunyi, Renggong Sumedangan, Renggong Cibulukadu, Renggong Karawang, Renggong Majalaya dan Renggong Subang. Tentu saja setiap istilah menunjukkan ciri khas tersendiri.

Kuda yang baik untuk Renggong adalah turunan Priangan, Sandel dan Sumbawa. Umur tiga atau empat tahun sudah baik untuk dilatih. Cara melatihnya lumayan susah. Harus dilecut dan dikendalikan sekian kali latihan. Setelah bisa ngibing mulai diiringi tepakan kendang. Jika mulai mahir, diiringi instrumen lain seperti bedug, torompet, kecrek, bangreng dan juru kawih. Kostum nayaga dan pemain biasanya terdiri atas ikat kepala, kampret dan celana pangsi. Sedangkan untuk hiasan kuda terdiri dari omyo (berbentuk segi panjang, memuat nama grup dan disimpan di pundak membujur ke badan kuda), sayap, siger di kedua telinga, dan mahkota menutup kepala. Harga Kuda Renggong jutaan rupiah. Bahkan jika dinilai memiliki keistimewaan lain, harganya bisa selangit. Sebelum pergelaran harus ada upacara tertentu, baik dari si empunya hajat atau pun dari grup Kuda Renggong yang bersangkutan, demi keselamatan. Selain atraksi ibingan, kesenian Kuda Renggong ini sering menampilkan kuda berdiri, bersalaman, bahkan menginjak pemain.

Now the Kuda Renggong is used in circumcision ceremonies, welcoming guests, tourist attractions. Even in the areas of Subang, Cilamaya, Ciasem and Karawang, Kuda Renggong is used to parade brides. The duration of each performance depends on the owner. Usually the village is paraded. We can imagine how far the distance must be taken during the performance. Now, Horse Renggong still exists in West Java. Even his name developed. There are Renggong Cileunyi, Renggong Sumedangan, Renggong Cibulukadu, Renggong Karawang, Renggong Majalaya and Renggong Subang. Of course, each term shows its own characteristics.

A good horse for Renggong is the Priangan, Sandel and Sumbawa derivatives. Three or four years old is good to be trained. How to train it is quite difficult. Must be whipped and controlled so many times. After being able to ngibing (dance) began to be accompanied by a slap of drums. If you start proficiently, accompanied by other instruments such as drum, torompet, kecrek, bangreng and kawih interpreter. Nayaga costumes and players usually consist of headbands, slacks and pangsi pants. Whereas for horse decoration consists of omyo (in the form of a long shape, containing the name of the group and kept on the shoulder stretched to the horse’s body), wings, siger in both ears, and the crown closes the head. Price of Renggong Horse millions of rupiah. Even if it is considered to have other features, the price can be exorbitant. Before the performance there must be certain ceremonies, either from the owner or from the concerned Horse Renggong group, for the sake of safety. In addition to the attractions, the Renggong Horse art often features standing horses, shaking hands, even stepping on players.

Salah satu grup Kuda Renggong terkenal adalah Si Kalong Muda dari Desa Cileunyi, Kabupaten Bandung. Grup ini tidak hanya melanglang di Jawa Barat tapi juga sampai ke Sudirejo, Jawa Tengah.

Bulan Syawal, Hapit dan Rayagung adalah bulan marema bagi grup Kuda Renggong. Di bulan-bulan tersebut banyak orang yang menyelenggarakan kenduri, baik khitanan atau pun pernikahan. Mau pakai Kuda Renggong? Siapkan saja jutaan rupiah. Soal tarif bergantung pada jauhnya jarak dari grup Kuda Renggong berada ke si empunya hajat.

One of the famous groups of Kuda Renggong is Si Kalong Muda from Cileunyi Village, Bandung Regency. This group not only goes to West Java but also reaches Sudirejo, Central Java.

Bulan Syawal, Hapit and Rayagung are best-selling months for the Kuda Renggong group. In those months many people held festivals, whether circumcision or marriage. Do you want to use Kuda Renggong? Just prepare millions of rupiah. The matter of the tariff depends on the distance from the Kuda Renggong group to the owner.