Mereka mencari kebahagiaan di Alun-alun Bandung. | They are looking for happiness in Alun-alun Bandung.

 

Setiap orang ingin bahagia, tapi, sayang sekali, banyak orang mencari kebahagiaan di tempat yang salah. Untuk mendapatkan kebahagiaan, mereka mencarinya ke tempat wisata, ke tempat belanja, ke rumah makan, dan sebagainya. Tapi mereka tidak mendapatkannya. Mengapa?

Everyone wants to be happy, but, alas, many people have been looking for happiness in the wrong place. To get happiness, they search for it to the sights, to the shopping, to the restaurant, and so forth. But they did not get it. Why?

Sejatinya, kita adalah seorang diri di dunia ini, meskipun kita berada di tengah-tengah keramaian dan kesibukan dunia. Hanya kita tidak menyadarinya. Bila kita menghadapi kegagalan dan kekecewaan, barulah kita menyadari kesunyian kita. Saya pikir, semakin cepat kita menyadarinya, itu semakin baik, karena dengan demikian kita akan mencari tumpuan yang lain dan lebih baik. Semua hubungan dan persahabatan duniawi bersifat sementara dan akan menjadikan kita berduka dan merana. Namun jika kita berpaling ke dalam serta mencari penghiburan, kenyamanan dan dukungan di dalam, kita akan menyadari bahwa kita sungguh-sungguh dapat menjadi bahagia.

We are lonely in this world, even in the midst of friends and the pomp and show of the world. Only we do not realize it. When we meet with failures and disappointments, then we realize our loneliness. I think the sooner we realize it the better, for then we would seek some other and better support. Worldly relations and friendships are temporary, and leave us moaning and mourning. But if we turn within, and seek solace and comfort and support within, we shall find that we can be really happy. 

Mereka mencari kebahagiaan di rumah makan. | They seek happiness in the restaurant.

 

Para Suci mengatakan bahwa Tuhan ada di dalam diri kita dan Sabda Ilahi adalah realita yang tak terbantahkan. Mereka membimbing dan melindungi kita di sini, membuat kita bahagia, dan membimbing kita setelah kematian hingga kita mencapai Rumah Sejati kita.

The Saints said that God is within us and the Divine Word is are incontestable Realities. They guide and protect us here, make us happy, and guide us after death until we reach our True Home.

Ketidakbahagiaan dihasilkan dari keinginan yang frustrasi. Ketika hal-hal tidak berjalan seperti yang kita inginkan, kita merasa tidak bahagia. Praktek Sabda Ilahi adalah penangkal terbaik terhadap keinginan dan ketidakbahagiaan. Dzikir atau pengulangan Nama-Nama Suci, secara teratur, akan membantu banyak dalam menangkap Sabda Ilahi dan memegangnya.

Unhappiness results from frustrated desires. When things do not turn out as we wish, we feel unhappy. The practise of Divine Word is the best antidote against desire and unhappiness. Dzikir or the repetition of the Holy Names, regurlarly, will help a good deal in catching the Divine Word and holding onto it.

Itu bukan berarti bahwa kita harus menjadi seorang petapa. Artinya, sambil hidup di dunia dan memenuhi semua kewajiban sosial maupun yang lain, kita harus menyisihkan waktu secara teratur bagi dzikir serta menyerahkan selebihnya kepada-Nya. Ini merupakan cara untuk menyesuaikan diri dengan nasib dan merasa bahagia selama mengalami pasang surut kehidupan. Kepercayaan terhadap Tuhan adalah penting. Kemudian, di saat-saat yang sulit atau menyedihkan, kita secara otomatis akan berpaling kepada Tuhan. Hanya Tuhan sumber kebahagiaan sejati.

This does not mean that one should become a hermit or a recluse. Rather, while living in the world and meeting our social and other obligations we should find some time regularly for dzikir, and leave the rest to Him. This is the way to reconcile ourselves with fate and feel happy while still in the ups and downs of life. Faith in the Lord, however, is essential. Then in moments of difficulty or despair, we turn automatically to the Lord. God alone is the source of true happiness.